Posted on

Janda HOT

Kenalin, namaku Arya, umurku 23 tahun, masih bujang dan belum berpacar. Hehe.
Aku pemilik bangunan kost baru disebalah barat kampus xxx dikota ini. Meski Cuma bangunan kecil, tapi yang penting baru, dan muat 5 kamar, 6 beserta kamar pribadiku. Bangunan baru ini telah diserahterimakan pagi ini. Sangat ingat sekali kalau hari itu rabu, pertengahan juni tahun 2012 silam.

Para pekerja yang masih bekerjaa hari ini merupakan hari terakhir mereka sesuai kontrak. Hari mulai sore, dan pekerjapun satu persatu pamit pulang. Hanya tinggal 1 pekerja satu – satunya wanita yang kulihat. Akhirnya kudatangi dia.

“maaf bu, nama ibu siapa ya? Kok belum pulang juga, sudah hampir gelap gini bu?” – tanya ku padanya,
“namaku Sutinah pak, maf pak, saya belum bisa pulang hari ini, takut kemalaman. Karena dari sekian yang kerja, Cuma saya yang paling jauh” – jawab ibu tinah penuh welas,
“kalau gitu, tidur dikamar saja bu, bebas milih kamar yang mana” – jawabku sambil menawarkan kamar.
“ah tidak pak, saya diteras saja”
“gak buk, tetep kuberikan kamar, saya yang punya, jadi itu sudah keputusan saya bu” – pintaku dengan paksa,

Kuambil barang bawaannya, dan kumasukkan kedalam kamar 1,
“niatku baik bu, supaya bu Tinah gak kedinginan diteras”
“ya makasih pak atas kamarnya”
‘sama – sama bu Tinah”

Akhirnya bu Tinah mau masuk kekamar yang kutawarkan tadi. Dan pintu ia tutup. Sepertinya dia ingin istirahat karena capek, seharian bekerja. Setelah itu aku pun pergi kewarung untuk cari nasi buat makan malam. Maklum baru saja sampai, jadi belum persiapan dapur juga.

Setelah dapat nasi 2 bungkus, aku segera kekamar tempat bu Tinah singgah. Tetapi kuketuk 3 kali gak ada sahutan dari dalam kamar. Korden cendela juga tertutup rapat. Sedikit panik akhirnya aku ambil kunci cadangan, dan bergegas aku membukanya dengan hati – hati. Karena takut ganggu kalau dia sedang tidur. Ternyata benar bu Tinah sedang tidur. Dan sama sekali tidak terbangun dengan kedatanganku.

Janda HOT

Disinilah awalnya aku sedikit tergoda untuk pertama kalinya dengan seorang wanita. Saat dia tidur, posisi dia terlentang dengan kaki terbuka lebar. Pakaian bu Tinah juga serba minimal. Cuma pakai tangtop dan clana jenas pendek. Meski kulit berwarna hitam, tetapi tubuh bu Tinah terlihat masih bagus. Pahanya terlihat mulus meski hitam, lengannya sangat berotot dan dadanya terlihat padat berisi. Tak jemu – jemu aku memandangi tubuhnya yang indah. Tapi aku segera sadar ketika penisku mulai bangun dan suhu tubuhku mulai naik.
Aku bergegas menutup pintu dan kembali ke kamarku sendiri. Setelah jam 8 malam, akhirnya Bu Tinah terbangun juga. Dia membuka pintu dan keluar untuk sekedar cari angin. Segera kuhampiri dia dan kutawari nasi tadi walaupun sudah dingin.
Akhirnya kami makan berdua dikamar No. 2 itu.

Singkat cerita akhirnya kami ngobrol hinggal larut malam. Dalam obrolan itu, ternyata bu Tinah adalah seorang janda 4 anak. Tak terasa waktu sudah sampai jam 10. Dan aku pun pamit untuk tidur.

“bu Tinah, mari istirahat, aku tak balik ke kamar”
“ya pak, maf pak, apa bapak gak tdur disni saja sama saya pak, maf pak kalau lancang”
Bingung juga ini harus bagaimana, sayang kalau harus ditolak
“apa gak apa – apa bu Tinah”
“ah gapapa kok pak, lagipula ini kan kost nya bapak”
(benar juga sih, kataku dalam hati)”oke bu, saya tak ambil perlengkapan dulu”
Dalam perjalanan ke kamar pun aku masih berpikir, gak percaya kalo hal ini akan terjadi
Sampailah aku kekamar bu Tina

“pak, nanti bapak tidur disebelah sini, nanti saya disebelah sana”
Nada Bu Tinah agak berbeda, suaranya pelan dan sedikit serak serak
“jangan pak lah, panggil aku Niko apa om saja lah bu”
“hehe iya deh om”

Kami berdua tiduran diatas ranjang kamar no. 2. Perasaanku cemas cemas, sedang, berdebar debar dan sedikit canggung. Maklum baru pertama kali tidur disebelah wanita yang tidak ada hubungan sodara.

Bu Tinah kembali bertanya,
“om , apa om sudah mau menikah, apa sudah ada gambaran nikah?”
“belum lah bu, baru merintis usaha kost ini, belum juga mulai, nikah mah besuk kalo sudah jadi bisnisnya”
“oh, kalo sudah nikah nanti ada yang menemani tidur lho om”
“hehe.. kayak ibu sekarang ini to, nemeni om tidur”

Senyum tipis keluar dari mulut bu Tinah
Meski kami sudah berjauhan, tapi ternyata jarak lengan kami tak sampai 1 hasta. Berkali kali aku curi – curi pandang, memandangi susu bu Tinah yang padat berisi itu.

“e .. gini om, maaf, klo gk brkenan, apa om pernah menjamah seorang wanita”
Mendengar pertanyaan itu, jantungku makin berdegup kencang, suhu tubuhku mulai naik, dan penisku juga makin tegang
“hehe belum lah bu Tin, baru sebatas pengagum dan ritual dikamar mandi saja” – celetuk ku sambil ketawa
Kami sama – sama ketawa. Tapi itu malah membuat kami semakin nyaman berduaan bercengkerama.
Bu Tinah sekarang miring menghadapku. Susu nya yang gede itu makin menunjukkan bentuknya. Belahan susu yang tadi agak sama – samar sekarang terlihat lebih jelas dan terlihat dalam sekali. Birahi ini semakin tak tertahankan.. mesum ini sudah menguasai setengah dari pikiranku!

Kami berdua melanjutkan ngobrol.
“apa bu Tin kalo dirumah menrindukan sosok suami?”
Sambil meletakkan tangan bu Tinah ke tanganku dan sedikit menggemgamnya, tangannya terasa agak menghangat daripada tadi saat kita bersalaman,
“sangat rindu om, kan sudah lama sekali”
“oh iya ya bu, kenapa ibu tidak nikah lagi saja”
“ah tidak, sebentar lagi umur jadi 46thn. Jadi sudah terlalu tua untuk cari pasangan lagi om” – jawab dia
“loh, 2x lipat umurku donk bu, tapi ibu masih terlihat sehat dan bugar, tangannya kuat bgini kok bu”
“hehe om bisa aja”
Genggaman tangan bu Tin makin kencang ketanganku. Birahiku makin naik hingga dada, nafasku sedikit kencang intensitasnya
kini tanganku dilepaskannya, tapi berpindah sekarang tangannya memegang lembut paha kananku

perasaan apa ini, baru pertama kali berdebar gini
Bu Tin sudah menyadari kalo sesuatu dalam celanaku ada yang mengganjal. Gundukan di celanan mengalihkan pandangannya dari wajahku,
Kini aku semakin takut tapi senang,
“om, ini apa om, boleh ku sentuh?”
Belum sempat aku jawab, tangan bu Tin sudah meraba raba mengurut setiap senti penisku yang sudah tegang sekali
“sssssssstttt..emmmh” suara bu Tin lirih dan terlihat menghela napas sedikit panjang dan dalam. Kelihatannya dia juga sama denganku. Hasratnya dikit demi sedikit mengalir dalam tubuhnya
“e itu itu. Anu bu, ah malu bu”
Rasanya enak sekali diurut dengan tangan bu Tin, makin tegang, pejuh ku sedikit naik sampai pangkal penisku.

“om, maaf, apakah saya boleh melihat dan memegangnya?” – tanya bi Tin kembali
“ee eem. Kalo gak keberatan, boleh bu, tapi aku malu, kecil punyaku”
“ah om merendah”
Kini tangannya mulai masuk ke celanaku, dan celana dalamku juga sudah dilewatinya dengan kesigapan jari – jemarinya.
Kini penisku sudah tersentuh oleh kulit tangan bu Tin tanpa perantara. Meski tangan bu Tin sedikit kasar, tapi genggamannya lembut.

Bu Tin meraba dari kepala penis dan terus meraba kebawah sampai menggenggam kedua testisku.

“ooooh” aku sedikit mengerang keenakan. Sensasinya sangat luar biasa kurasakan.
Kini bu Tin memandangku dengan senyuum kecilnya, dan aku juga tersenyum dibuatnya. Sejurus itu pula tangan kanannya membuka celana kain beserta clana dalamku. Dengan lincah kini terbuka lah sudah dan terlihat penisku yang unyu nyembul.

Kami berdua memandangnya. Rasa penasaran menghinggapiku. Apa yg akan bu Tin lakukan setelah ini.
Bu Tin menggeser tubuhnya lebih dekat ketubuhku. Sambil tetap tiduran miring ke kiri, Susu bu Tin menempel ke lenganku. Susu gede kenyal bak jelly itu kini menempel dilenganku. Kurasakan sangat empuk sekali.

Tangan bu Tin kembali memegang penisku dengan lembut. Kini seluruh jari tangannya menggenggam penisku dan mengocoknya sedikit demi sedikit.

“aaaahhhh..sssstttttt eeeeeeemmmmmh” kami sama sama mengerang merasakan birahi yang semakin tinggi. Kocokan tangan hangat bu Tin saya rasakan persentinya dari bawah maupun atas,

“waah lumayan gede juga punya om, bentuk nya kayak lampu taman. Kepala penis nya lebih besar dari batangnya” – terang bu Tin
“iya bu, kecil ya?” – tanyaku balik
“ah tidak juga om”

Bu Tin terus melakukan aksinya mengocok lembut penisku, yang semakin lama semakin cepat. Begitu pula dengan pejuhku, kini sudah sampai ke kepala penisku.

Habis kata – kataku aku Cuma bisa berkata, “eeemmmmh … ooohhh” dengan lirih
“om. Mau gak bu Tin servis? Meski tua gini kali aja masih bisa buat om puas”
“ah bu Tin merendah,,apa ibu mau melayani aku bu?”
“kenapa tidak om, lagipula ini tempat om, dan saya sudah diberi tumpangan gratis. Kini giliran saya yang melayani anda om”
“iya boleh sekali bu. Terimakasih sebelumnya. Tapi aku ga tau harus berbuat apa. Baru kali ini saya begini bu. Sumpah “ – sahutku seraya merasakan kocokan lembutnya.
“sudah om berbaring rileks saja disitu. Om cukup merasakannya saja. Yang lain, serahkan semuanya padaku”
Aku hanya bisa mengangguk karena desakan crott sudah mulai kurasakan. Dorongan dari pangkal penis sudah mulai ku rasakan.

Begitu dapat ijin dariku., kini bu Tin menghentikan kocokannya dan mulai melepas celanaku. Aku juga melepas semua baju ku. Kini pakaianku sudah tertanggal. Giliran bu Tin melepas semua pakaiannya. Satu persatu bu Tin melepas pakaiannya. Saat CD terlepas, kulihat jambut nya sangat lebat dan panjang. Memek bu Tin terlihat sedikit seperti garis lurus tebal dan sepertinya sedikit tembem. Perut bu Tin sudah sedikit mengendor. Wajar anaknya sudah 4. Kini tinggal BH nya yang blm dia lepas.

Tiba – tiba dia mendekatiku diatasku.
“om, minta tolong donk, lepasin bra ku?”
“oh iya”
Aku merangkulnya dan coba meraba cetelan bh nya dibelakang punggungnya.
Kini susu gede kencang bu Tin didepan mataku, terlihat sangat besar sekali.

BH pun lepas, dan kini terlihat utuh susu bu Tin tanpa BH. Bentuknya sangat panjang dan berisi.
“cblup” . putting susu bu Tin tepat mengenai wajahku saking panjang dan kendornya bisa sampai ke wajahku, padahal dia agak tinggi berjauhan.

“srrruuuuuutttt” putting susu kiri bu Tin mulai kusedot
“aaaaahhhhhh.. om pintar juga” – puji bu Tin,
Tangan kana Bu Tin kini kembali mengocok penisku yang kini telah agak lebih reda. Pejuhnya sudah turun lagi,.
Tangan kiriku juga gak mau kalah, ku pegang susu kanan bu Tin dan meremasnya. Sungguh panjang susu Bu Tin, sampai tanganku saja tak muat menggenggamnya.

“oooooohhh..eegh..aaah. terus om sedoot. Mainkan om..remas, tarik dan remas om” – suruh bu Tin sambil mengerang keenakan.
Ku remas dan kugenggam dan kutarik susu bu Tin, kuremas lagi,kutekan kuat2 susu bi Tin kearah tubuhnya dan kuplintir ksana kmari.

“ooooggggghhhhhh … aaaaaaakkkkkkhhhhh .. om pinter, terus om” mendengar kata – kata bu Tin semangatku menyedot dan meremas susu bu Tin semakin kencang .. “ooourggghhhh … aaaaaaakkkkkhhh “ erangan bu Tin makin keras”

Tanganku kananku kucoba gerakkan kearah memek bu Tin, jembut lebat bu Tin sedikit menyulitkan tanganku merabanya.

Hingga tangan kanan bu Tin berhenti mengocok penisku dan membantu mengarahkan tanganku kearah memeknya dengan benar. Kemudian dia gerakkan tanganku seraya menuntunku untuk melakukannya seperti yang dia inginkan.

“oooooooggggggh .. ooooooggggghhh .. om …ooooggggghhhhh betul om…teruuuuuussssshhhhhh .. aaakhh” mendengar desahan semangatku semakin berkobar… tangan kananku makin beringas memainkan daging kenyal memek bu Tin. Daging sekitar memek serasa ikut bergerak senada dengan jariku.

Bu Tin berhenti mengocok penis tegangku, tangannya cm memegang kepala penisku yang besar. dia sedang merasakan remasan tanganku, sedotan mulutku, dan sentuhan tanganku dimemeknya.

“terus om terruuuss… emmhh … uuuuhhhhhh.., lama gak merasakan ini om, teruuss”. Tubuh bu Tin sedikit bergerak – gerak menggelinjang kenikmatan. Aku pun full konsentrasi, jadi penisku mulai turun tensinya dan pejuhku juga turun.

“uuughh om enak banget..” Bu Tin gak henti hentinya mengerang kenikmatan. Tak terasa, ujung jari kananku terasa basah. Ternyata memek bu Tin sudah mulai banjir..

Bu Tin mulai bangun dan menuju ke penisku yang masih tegang itu.

“om, maf ya, penis om saya emut,. Om rileks aja dan rasakan” .
Kedua tangan bu Tin bekerja menggerayangi pangkal penis dan testisku, “oohh nikmatnya bu” kurasakan birahiku kembali naik..
“cuppp .. cuup” bu Tin mulai mengecup ngecup penisku., tanganku hanya bisa meraba bokong bu Tin.
“sllepppssssscc..’ ooooohhhh … oooh eemm” penisku yang sudah tegang larut kedalam emutan bu Tin..
“nikmatt buu… ooogghh ..hangat mulut bu Tin” . nikmat dan hangat apalagi sedotannya kuat. Baru kurasakan nikmatnya di pertamakalinya diemut.

Sekujur batang penis masuk dalam – dalam kedalam mulut bu Tin, enaknya ‘oooooh’. Tak terasa pejuhku sampai dipala penisku.

“bu .. aku hampir keluar bu, gmna ini”
Bu Tin kemudian menghentikan ulumannya dan bangkit ke posisi WOT.
Kulihat waktu bu Tin berdiri diatas dengkulnya, terlihat sangat wouww… bodynya terlihat masih bagus dibanding wanita seusianya, susunya masih terlihat indah, jembutnya bgitu lebat, dan lubang memek nya terlihat begitu kenyal dan sedikit embem.

“om.. ibu masukin ya” ..
Kpala penis ku diarahke dalam lubang memek kenikmatan bu Tin, dengan lebut kpala penis ku dimasukkan kedalam memek indah itu.

“ooogghh .. hangat bu. Terasa basah dan hangat ..,” – ucapku .. aku benar – benar melihat kpala penisku masuk kedalam memek bu Tin, namun hanya kepalanya saja yang masuk.

“gmna om… enak gak om”?
“hangat bu.. memek ibu hangat banget”

Tiba – tiba “blesssssss….”
“oooouughghhhh …. Ezzzt..ooooohh emmmmh.. “ kita sama2 teriak,

Sekali hentakan bu Tin, penisku langsung masuk penuh kedalam memek bu Tin. Sampai ranjang yg kita gunakan berdecit.

Bu Tin memejamkan mata sebentar dan mulutnya tak berhenti mengerang… “eeeeeggghmmmmm … ehhmmmm .. oooouh”
‘enak gak om,.. gmna rasanya ..ehhhmmmhh,, ” – bu Tin bertanya sambil mengerang lembut.
“hangat sekali bu,. luar biasa nikmat.., penisku serasa dipijit pijit ama dinding memek ibuk yang lembut dan hangat,” . aku henti – hentinya merasakan setiap senti batang penisku,. Rasanya sangat nikmat tiada tara.
“ibu genjot ea om”,
“iya bu, aku ingin lebih nikmat lagi”

“sleeeepp sleep slep .. ceplak ceplak ceplak “ bu Tin mulai menggenjot peniskku dengan memeknya.
‘oogghh oooghhh .. emmmh” enak sekali, rasanya nikmat berkali2 lipat dari yg tadi,

“achhh acchhh aaahhhh aaahhh , enak penis om, enak banget.. bisa ngaduk memek .. aahhhhh .. emmh ach ach ach” bu Tin mendesah tak karuan, mata bu Tin terpejam, mulutnya tak berhenti berdiam.

Perjalanan pejuhku terasa sangat cepat naik, karena pijitan dan sedotan memek bu Tin,
“bu … oh bu … aku sudah dipucuk ini..udah hampir keluar!!”. – aku sedikit mengeluh karena sudah gak tertahankan lagi,

“ceplak ceplak ceplak’ genjotan bu Tin semakin kencang. Mataku terpejam dan ku terperingis menahan desakan keluar yang sangat tak tertahankan …

“keluanrkan om .. keluarkan, enak banget penisnya … empot empotan memek ku om,.. aaaachhh uuuh..”
“bu bu bu buuuu…… aaaaaakkkhhhhh … Srrruuuuuuutttt croooooott crooooootttttt” jebol sudah pertahananku di memek bu Tin. Bu Tin berhenti menggenjot dan menahan penisku tetap di memeknya dalam – dalam.

Aku bener – benar terpejam .., merasakan kenikmatan yang luar biasa saat pejuhku menyembur didalam memek bu Tin. Rasa tiap pompaaan benar benar sangat luar biasa nikmat..

“eeemmmmmhhhh.. ssssszcttt aaaaaaahhh” kami berdua tetap diposisi WOT dan kami menata pernapasan karena lelah terengah – engah..

Setelah beberapa saat penisku mulai lunglai, .. segeralah bu Tin mencabut penisku itu.

“cepluuk” – suara memek bu Tin saat penis keluar. Memek bu Tin terlihat banyak cairan putih disekeliling daging memek empuknya. Begitu pula penisku berlapis cairan putih dan trasa licin tp lengket.
Dan ada cairan menetes keluar dari memek bu Tin, dan jumlahnya tidak sedikit.

“bu itu ada yang keluar bu.”
“iya om, ini sperma om tadi yang keluar didalam. Tau gak om, rasanya angeeeeet banget lho,..bagus itu sperma om”
“terus, gmna bu,. Kalo hamil gimna?” cetusku agak kebingungan,
“ndhak om, saya lagi gak dalam masa subur, tenang saja”
“maaf ya bu, gak bisa lama, rasanya pengen cepet keluar,.. gak tahan banget bu”
“wajar om, kan om baru pertama kali, nanti bakal bisa tahan lama..”

Aku masih terbaring, beruaha mengumpulkan sisa – sisa nikmat pertempuran barusan bersama seorang wanita kuli bangunan.. rasanya luar biasa dan tak kan kulupakan.

Kami sama – sama mandi dan membersihkan diri, setelah itu, kita tidur bersama
“bu.. makasih ya atas servisnya, enak banget,. Maaf klo bnyak salah”
“…” , bu Tin sudah tertidur lelap. Ternyata dia juga capek kayaknya.

Pagi tiba,saatnya bu Tin pamitan. Aku ditinggali nomor telepon.
“SMS saja kalau ada waktu luang om, barangkali dirumah ku ada sinyal”
“iya bu. .pasti kutanyakan kabar ibu”.

3 bulan sudah aku gk bisa tidur nyenyak di kosan, memikirkan keenakan bersama bu Tinah. Apalagi itu seks pertamaku. Perasaan tak tenang selalu menghantui. Nah kalau benar benar tumbuh dari bibit yang kutebar. Akhirnya ku sms juga hari itu, dan sehari berselang ada balasan sms kalo kabar bu Tinah baik baik saja, dan tidak hamil. Semua baik baik saja.

Leeggaaa rasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *